Skip to main content

Rencana

Garuda benar-benar kalah – di dalam, di luar padang

indon-kalah.jpg
Kerajaan Indonesia mohon maaf secara rasmi, Persekutuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) akur dengan sebarang hukuman mendatang tapi ini yang paling tidak mahu didengar penyokong fanatik skuad Garuda – bahawa timnas (tim nasional) Indonesia benar-benar kalah.

Tidak perlu hendak menyalahkan gerombolan kecil penyokong Harimau Malaya, atau aksi pemainnya yang tidak mencetus sebarang provokasi – cuma satu kad kuning kepada La'Vere Corbin-Ong dalam permainan yang rata-rata bersih -- kecuali skuad tuan rumah itu tidak cukup bagus.

“Ia satu kekalahan mutlak,” akui ketua jurulatihnya, Simon McMenemy, dalam kempen pertamanya mengemudi skuad Garuda, yang turut disimpulkannya benar-benar sulit untuk diterima seluruh pihak di kem tuan rumah kelayakan Kumpulan G, Piala Dunia 2022 itu.

Sambungnya: “Susah untuk diterima, ini menyakitkan untuk semua, bukan hanya untuk kami, tapi untuk seisi stadion. 

“Kami tahu pada babak pertama pemain sudah bermain cukup bagus, sesuai rencana, ada tekanan dari tim tamu, tetapi ada jarak yang berhasil dimanfaatkan pemain.

"Dua puluh menit terakhir pemain terlihat capek, lima menit akhir kami coba bertahan, tapi ada satu umpan silang yang melukai kami. 

“Meski berat, saya mau mengucapkan selamat kepada Malaysia. Kami benar-benar kalah, ini benar-benar hasil yang sulit diterima," kata jurulatih dari Scotland itu seperti dipetik oleh msn.com dan goal.com.



Daripada sudut manapun, ia tidak mewajarkan kekecohan yang ditimbulkan penyokong tuan rumah itu hingga menyebabkan permainan terhenti lapan minit pada pertengahan separuh masa kedua di Stadium Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) itu yang kesudahannya dimenangi Malaysia 3-2.

Mengiyakan kata-kata jurulatihnya itu, penjaring dua gol Indonesia, Alberto Goncalves, memberi alasan keletihan daripada kerancakan liga domestik yang masih berjalan.

"Kita unggul 2-1 dan main cukup bagus pada babak pertama. Serangan-serangan yang dibangun melalui sayap kerap kali membuat barisan belakang timnas Malaysia keteteran," kata Beto kepada kompas.com seusai pertandingan.

"Saya pikir pada babak kedua, timnas Indonesia justru tampil di bawah tekanan tim tamu. Kita kelelahan karena buntut dari kompetisi Liga 1 yang masih berjalan. Terkadang satu minggu harus bermain sampai dua pertandingan.

"Waktu (skor) 2-2, masih ada waktu beberapa menit, masih ada kesempatan menang tetapi gara-gara itu (rusuhan penyokong), kami langsung down," katanya lagi.



Menyatakan kesal di atas kejadian rusuhan penyokong itu, Setiausaha Agung PSSI, Ratu Tisha, menganggap ia tidak seharusnya berlaku, apatah lagi Indonesia sedang berkira-kira untuk menyiapkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia B-20 pada 2021.

"Kami sangat menyesali apa yang terjadi ini, terutamanya dalam kelayakan Piala Dunia ini karena baru pertama kali ikut semenjak lepas dari penggantungan FIFA,” katanya seperti dipetik BolaSport.

"Kejadian ini untuk kita sama-sama merefleksikan diri baik PSSI sendiri, suporter, dan semua pihak yang ada, tidak ada yang perlu disalahkan," ujarnya.

"Kita sudah tahu mana perbuatan yang baik dan buruk dan saya rasa memang kekecewaan, kesedihan, ini memang tak bisa terbendung," ucapnya.

"Namun, ini satu hal yang pasti, jangan pernah menggunakan alasan ketaksuban terhadap bola sepak untuk melakukan suatu tindakan yang melanggar aturan, apalagi sampai berbau anarkis.”



Menjangkakan suatu bentuk hukuman daripada FIFA, Ratu Tisha, sekadar mengulas: “Ya kami harus terima. Kalau salah, ya kami terima saja. Fair play saja."

Dalam pada itu, Indonesia meminta maaf kepada kerajaan dan rakyat Malaysia melalui Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, kepada rakan sejawatannya, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman.



Ia, di peringkat ini, harus dianggap cakap-cakap politik semata-mata. 

Advertisement

Must Watch Video